Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tampilkan postingan dengan label Al-Adab Al-Mufrad. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Al-Adab Al-Mufrad. Tampilkan semua postingan

Keutamaan Orang Yang Menanggung Anak Perempuannya Yang Dikembalikan

Bab 43 | KEUTAMAAN ORANG YANG MENANGGUNG ANAK PEREMPUANNYA YANG DIKEMBALIKAN


Hadits ke 80  'Abdullah bin Shalih mengabarkan kepada kami, ia berkata:


حَدَّثَنِي مُوسَى بْنُ عَلِيٍّ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ لِسُرَاقَةَ بْنِ جُعْشُمٍ‏:‏ أَلاَ أَدُلُّكَ عَلَى أَعْظَمِ الصَّدَقَةِ، أَوْ مِنْ أَعْظَمِ الصَّدَقَةِ‏؟‏ قَالَ‏:‏ بَلَى يَا رَسُولَ اللّٰهِ، قَالَ‏:‏ ابْنَتُكَ مَرْدُودَةٌ إِلَيْكَ، لَيْسَ لَهَا كَاسِبٌ غَيْرُكَ‏.‏


Musa bin 'Ulayy mengabarkan kepadaku dari ayahnya bahwa Nabi ﷺ bersabda kepada Suraqah bin Ju'syum, "Maukah engkau aku beritahu shadaqah yang paling besar atau salah satu dari shadaqah yang terbesar?" la menjawab, "Tentu, wahai Rasulullah." Beliau lalu bersabda, "Puterimu yang dikembalikan kepadamu, tidak ada yang memberinya nafkah selain engkau.


{ Isnadnya dha'if. 'Ali bin Rabah tidak pernah mendengar hadits dari Suraqah. Lihat kitab Mishbahuz Zujajah (3/161), Tuhfatut Tahshil (hal. 362), dan adh-Dha'ifah (4822). Diriwayatkan oleh Ibnu Majah: kitab al-Adab, bab Birrul Walid wal Ihsan ilal Banat (3667).}



Hadits ke 81

Bisyr mengabarkan kepada kami, ia berkata, 'Abdullah mengabarkan kepada kami, ia berkata:


أَخْبَرَنَا مُوسَى قَالَ‏:‏ سَمِعْتُ أَبِي، عَنْ سُرَاقَةَ بْنِ جُعْشُمٍ، أَنَّ رَسُولَ اللّٰهِ ﷺ قَالَ‏:‏ ((يَا سُرَاقَةُ...)) مِثْلَهُ‏.‏


Musa mengabarkan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar ayahku dari Suraqah bin Ju'syum bahwa Rasulullah bersabda. "Wahai Suraqah...." (sama dengan hadits di atas).


{ Dhalif, Lihat penjelasan sebelumnya.}


Penjelasan Kata (80 dan 81):


: مَرْدُودَةً

Dibaca nashab sebagai haal. Artinya, keadaan anak perempuanmu yang dikembalikan kepadamu, misalnya ketika suaminya menceraikannya.


Kandungan Hadits:

Anjuran agar bershadaqah terhadap anak perempuan yang ditalak yang dikembalikan (oleh suaminya) ke rumah ayahnya, dan memperlakukannya dengan baik.



Hadits ke 82

Haiwah bin Syuraih mengabarkan kepada kami, ia berkata: Baqiyyah mengabarkan kepada kami dari Buhair, dari Khalid:


عَنِ الْمِقْدَامِ بْنِ مَعْدِي كَرِبَ، أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللّٰهِ ﷺ يَقُولُ‏:‏ ((مَا أَطْعَمْتَ نَفْسَكَ فَهُوَ لَكَ صَدَقَةٌ، وَمَا أَطْعَمْتَ وَلَدَكَ فَهُوَ لَكَ صَدَقَةٌ، وَمَا أَطْعَمْتَ زَوْجَكَ فَهُوَ لَكَ صَدَقَةٌ، وَمَا أَطْعَمْتَ خَادِمَكَ فَهُوَ لَكَ صَدَقَةٌ‏ )).‏


Dari al-Miqdam bin Ma'dikarib, bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesuatu yang engkau berikan kepada dirimu sendiri adalah shadaqah bagimu, apa yang engkau berikan kepada anakmu adalah shadaqah bagimu dan apa yang eng kau berikan kepada isterimu adalah shadaqah bagimu serta apa yang engkau berikan kepada pelayanmu adalah shadaqah bagimu.


{ Shahih. Baqiyyah jelas menuturkan hadits dalam riwayat Ahmad (4/131) seperti hadits no (195). Dan diriwayatkan oleh Ahmad (4/132) melalui Ismail bin 'Ayyasy, dari Buhair. Lihat ash-Shahihah (452). }


Penjelasan Kata:


: وَلَدُكَ

Anak perempuan yang dikembalikan (oleh suaminya) termasuk dalam keumuman anak.


Kandungan Hadits:

  1. Seseorang mendapat pahala atas nafkah wajib yang ia berikan, seperti pahala shadaqah karena ia meniatkan itu untuk mendekatkan diri kepada Allah dan melaksanakan perintah-Nya.
  2. Seseorang wajib memberikan nafkah kepada isteri, anak, budak dan semua orang yang wajib ia nafkahi.


Orang Yang Menafkahi Tiga Saudari Perempuan

Bab 42 | ORANG YANG MENAFKAHI TIGA SAUDARI PEREMPUAN


Hadits ke 79  'Abdul Aziz bin 'Abdillah mengabarkan kepada kami, ia berkata, 'Abdul Aziz bin Muhammad mengabarkan kepadaku dari Suhail bin Abi Shalih, dari Sa'id bin Abdirahman bin Mukmil, dari Ayyub bin Basyir al-Mu'awi:


عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، أَنَّ رَسُولَ اللّٰهِ ﷺ قَالَ‏:‏ لاَ يَكُونُ لأَحَدٍ ثَلاَثُ بَنَاتٍ، أَوْ ثَلاَثُ أَخَوَاتٍ، فَيُحْسِنُ إِلَيْهِنَّ، إِلاَّ دَخَلَ الْجَنَّةَ‏.‏


Dari Abu Sa'id al-Khudri bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, ""Tidaklah seseorang memiliki tiga orang anak perempuan atau tiga orang saudari perempuan lalu ia memperlakukan mereka dengan baik melainkan niscaya ia masuk Surga"


{ Hasan lighairihi. Isnad ini dha'if karena Ibnu Mukmil majhul dan juga faktor idhthirab padanya. Lihat ash-Shahihah (294). Diriwayatkan oleh Ahmad (3/42), Abu Dawud: kitab al-Adab, bab Fadhlu man 'Ala Yatiman (5147-5148), at-Tirmidzi: kitab al-Birr wash-Shilah, bab Ma Ja a fi Nafaqatil Banat wal Akhawat (1913), dan ini diperkuat oleh hadits-hadits bab sebelum ini, hadits 'Auf bin Malik, dan hadits Ummu Salamah riwayat Ahmad (6/27 dan 248).}


Penjelasan Kata:


فَيُحْسِنُ إِلَيْهِنَّ

Berbuat baik kepada mereka, mencakup semua hal yang terpuji, baik dalam pendidikan, nafkah, perilaku yang baik dan sejenisnya.


Kandungan Hadits:

  1. Kabar gembira berupa Surga bagi orang-orang yang mengasuh dan memperhatikan anak perempuan atau saudari perempuannya dengan sebaik-baiknya.
  2. Keutamaan berbuat baik kepada anak-anak perempuan, memberi mereka nafkah, bersabar atas mereka, dan semua hal yang berkaitan dengan mereka.


Orang Yang Menanggung Dua Atau Satu Anak Perempuan

Bab 41 | ORANG YANG MENANGGUNG DUA ATAU SATU ANAK PEREMPUAN


Hadits ke 76. 'Abdullah bin Yazid mengabarkan kepada kami, ia berkata: Harmalah bin 'Imran Abu Hafsh at-Tujaibi mengabarkan kepada kami dari Abu Usysyanah al-Mu'afiri:


عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ‏:‏ سَمِعْتُ رَسُولَ اللّٰهِ ﷺ يَقُولُ‏:‏ مَنْ كَانَ لَهُ ثَلاَثُ بَنَاتٍ، وَصَبَرَ عَلَيْهِنَّ، وَكَسَاهُنَّ مِنْ جِدَتِهِ، كُنَّ لَهُ حِجَابًا مِنَ النَّارِ‏


Dari 'Uqbah bin 'Amir, ia berkata, "Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, 'Barangsiapa mempunyai tiga anak perempuan dan ia bersabar terhadap mereka serta memberi mereka pakaian dari hartanya, maka mereka akan menjadi tirai baginya dari api neraka." 


{ Shahih. HR. Ahmad (4/154), Ibnu Majah: kitab al-Adab, bab Birrul Walid wal Ihsan ilal Banat (3669). Lihat Mishbahuz Zujajah (3/162) dan ash-Shahihah (294 dan 1027).}


Kandungan Hadits:

  1. Terdapat penegasan tentang hak anak perempuan, karena biasanya anak perempuan memiliki kelemahan dalam mengurus kepentingan-kepentingannya. 
  2. Keutamaan memberi nafkah dan berbuat baik kepada anak perempuan.
  3. Perhatian orang tua terhadap anak perempuannya dalam bentuk mendidik dan membesarkannya menjadi penyebab bagi orang tua masuk Surga dan memperoleh derajat yang tinggi di dalamnya.




Hadits ke 77.  Al-Fadhl bin Dukain mengabarkan kepada kami, ia berkata: Fithr mengabarkan kepada kami:


عَنْ شُرَحْبِيلٍ قَالَ‏:‏ سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ‏:‏ مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُدْرِكُهُ ابْنَتَانِ، فَيُحْسِنُ صُحْبَتَهُمَا، إِلاَّ أَدْخَلَتَاهُ الْجَنَّةَ


Dari Syurahbil, ia berkata, "Aku mendengar Ibnu 'Abbas dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, 'Tidaklah seorang muslim memiliki dua anak perempuan lalu ia memperlakukan keduanya dengan baik melainkan keduanya akan memasukkannya ke dalam Surga."


{ Hasan lighairihi. Isnad ini lemah. Syurahbil bin Sa'id dha'if. Lihat ash-Shahihah (2776). Diriwayatkan oleh Ahmad (1/235), Ibnu Majah: kitab al-Adab, bab Birrul Walid wal Ihsan ilal Banat (3670) dan al-Hakim (4/178). Dan hadits ini memiliki banyak penguat, di antaranya hadits Anas yang akan datang dengan (894).}


Kandungan Hadits:

  • Membesarkan, mendidik, dan berbuat baik kepada anak perempuan menjadi penyebab turunnya rahmat Allah.



Hadits ke 78.  Abu Nu'man mengabarkan kepada kami, ia berkata: Sa'id bin Ziyad mengabarkan kepada kami, ia berkata, 'Ali bin Zaid mengabarkan kepadaku, ia berkata:


حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ الْمُنْكَدِرُ، أَنَّ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللّٰهِ حَدَّثَهُمْ قَالَ‏:‏ قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ ﷺ :‏ مَنْ كَانَ لَهُ ثَلاَثُ بَنَاتٍ، يُؤْوِيهِنَّ، وَيَكْفِيهِنَّ، وَيَرْحَمُهُنَّ، فَقَدْ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ الْبَتَّةَ، فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ بَعْضِ الْقَوْمِ‏:‏ وَثِنْتَيْنِ، يَا رَسُولَ اللّٰهِ؟‏ قَالَ‏:‏ وَثِنْتَيْنِ‏


Muhammad bin al-Munkadir mengabarkan kepadaku bahwa Jabir bin 'Abdillah menceritakan kepada mereka, ia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda, 'Barangsiapa yang mempunyai tiga anak perempuan yang ia melindungi, mencukupi dan menyayangi mereka, niscaya ia akan masuk Surga. Lalu seseorang dari orang-orang yang hadir bertanya, 'Dan (juga) dua orang wahai Rasulullah?' Beliau menjawab, 'Dan juga dua orang." 


{ Hasan. Dalam isnad ini terdapat 'Ali bin Zaid bin Jad'an, dia dha'if, tetapi dia diperkuat. Diriwayatkan oleh Ahmad (3/303), al-Bazzar (1908) melalui 'Ali bin Zaid, dari Ibnul Munkadir. Diriwayatkan juga oleh Abu Ya'la (2207) melalui Sufyan bin Husain, dan al-Bazzar (1908/Kasful Asrar) melalui Sulaiman at-Taimi, ath-Thabrani dalam kitab al-Mu'jamul Ausath (5157) melalui Ayyub as-Sikhtiyani, ketiganya dari Muhammad Ibnul Munkadir. Lihat ash-Shahihah (1027 dan 2492).}


Kandungan Hadits:

  1. Hak anak perempuan lebih ditekankan dari hak anak laki-laki karena lemahnya perempuan dalam mengurus kepentingan-kepentingannya dalam mencari nafkah, berperilaku, dan berpendapat.
  2.  Allah akan memberikan tiket Surga kepada orang tua yang menanggung dengan mengasuh dan memperhatikan kedua anak perempuannya.






Budak Yang Sudah Dimerdekakan Oleh Suatu Kaum Termasuk Keluarga Mereka

Bab 40 | BUDAK YANG SUDAH DIMERDEKAKAN OLEH SUATU KAUM DARI SUATU KAUM TERMASUK KELUARGA MEREKA



Hadits ke 75.  'Amr bin Khalid mengabarkan kepada kami, ia berkata: Zuhair mengabarkan kepada kami, ia berkata, 'Abdullah bin 'Utsman mengabarkan kepada kami, ia berkata: Isma'il bin 'Ubaid mengabarkan kepadaku dari ayahnya, 'Ubaid:


عَنْ رِفَاعَةَ بْنِ رَافِعٍ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ لِعُمَرَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ‏:‏ اجْمَعْ لِي قَوْمَكَ، فَجَمَعَهُمْ، فَلَمَّا حَضَرُوا بَابَ النَّبِيِّ ﷺ دَخَلَ عَلَيْهِ عُمَرُ فَقَالَ‏:‏ قَدْ جَمَعْتُ لَكَ قَوْمِي، فَسَمِعَ ذٰلِكَ الأَنْصَارُ فَقَالُوا‏:‏ قَدْ نَزَلَ فِي قُرَيْشٍ الْوَحْيُ، فَجَاءَ الْمُسْتَمِعُ وَالنَّاظِرُ مَا يُقَالُ لَهُمْ، فَخَرَجَ النَّبِيُّ ﷺ، فَقَامَ بَيْنَ أَظْهُرِهِمْ فَقَالَ‏:‏ هَلْ فِيكُمْ مِنْ غَيْرِكُمْ‏؟‏ قَالُوا‏:‏ نَعَمْ، فِينَا حَلِيفُنَا وَابْنُ أُخْتِنَا وَمَوَالِينَا، قَالَ النَّبِيُّ ﷺ:‏ حَلِيفُنَا مِنَّا، وَابْنُ أُخْتِنَا مِنَّا، وَمَوَالِينَا مِنَّا، وَأَنْتُمْ تَسْمَعُونَ‏:‏ إِنَّ أَوْلِيَائِي مِنْكُمُ الْمُتَّقُونَ، فَإِنْ كُنْتُمْ أُولَئِكَ فَذَاكَ، وَإِلاَّ فَانْظُرُوا، لاَ يَأْتِي النَّاسُ بِالأَعْمَالِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَتَأْتُونَ بِالأَثْقَالِ، فَيُعْرَضَ عَنْكُمْ، ثُمَّ نَادَى فَقَالَ‏:‏ يَا أَيُّهَا النَّاسُ، وَرَفَعَ يَدَيْهِ يَضَعَهُمَا عَلَى رُءُوسِ قُرَيْشٍ، أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ قُرَيْشًا أَهْلُ أَمَانَةٍ، مَنْ بَغَى بِهِمْ، قَالَ زُهَيْرٌ‏:‏ أَظُنُّهُ قَالَ‏:‏ الْعَوَاثِرَ، كَبَّهُ اللّٰهُ لِمِنْخِرَيْهِ، يَقُولُ ذٰلِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ‏


Dari Rifa'ah bin Rafi', bahwa Nabi ﷺ berkata kepada 'Umar bin al-Khaththab, "Kumpulkan untukku kaummu kepadaku." "Umar lalu mengumpulkan mereka. Ketika mereka telah berkumpul di pintu rumah Nabi, 'Umar lalu masuk dan berkata, "Aku sudah mengumpulkan untukmu kaumku." Ketika orang-orang Anshar mendengar hal itu, mereka berkata, "Telah turun wahyu tentang orang Quraisy." Maka berdatanganlah mereka yang ingin mendengar dan melihat apa yang akan diucapkan kepada orang Quraisy tersebut. Maka keluarlah Nabi ﷺ lalu berdiri di antara mereka dan bersabda, "Apakah ada orang lain yang bergabung dengan kalian?" Mereka menjawab, "Benar, sekutu kami, keponakan kami dan bekas budak-budak kami." Rasulullah bersabda, "Sekutu kita, keponakan kita dan budak-budak kita termasuk kita, dan kalian mendengar bahwa wali-waliku adalah mereka yang bertakwa. Jika kalian adalah mereka, maka kalian adalah wali-waliku. Jika tidak maka ketahuilah, jangan sampai pada Hari Kiamat kelak orang lain datang dengan perbuatan-perbuatan (baik) mereka sedangkan kalian datang dengan harta kalian lalu semua itu ditolak dari kalian." Beliau lalu mengangkat suaranya sambil bersabda, "Wahai manusia --sambil mengangkat tangannya ke arah kepala orang-orang Quraisy~. Wahai manusia, sesungguhnya orang Quraisy adalah orang-orang yang memegang amanah. Siapa yang berbuat zhalim terhadap mereka -Zuhair mengatakan, 'Aku mengira beliau mengatakan, 'Berbuat buruk,-  Allah akan menelungkupkan di atas kedua pipinya." Beliau mengucapkannya 3 kali. "


{ Hasan lighairihi. Isnad ini lemah, karena Ismail bin 'Ubaid majhul. Lihat ash-Shahihah (1688) dan adh-Dha'ifah (1716). Diriwayatkan oleh Ahmad (4/340), ath-Thabrani (4544-4545), al-Hakim (4/73), dan hadits ini memiliki penguat dari hadits mursal al-Hakam bin 'Uyainah dalam riwayat Abu Ya'la (1576) tanpa menyebut kelebihan Quraisy, dan itu tersebut dalam hadits Jabir pada riwayat Ibnu 'Asakir dalam kitab at-Tarikh (11/233). Dan perkataan 'Umar, "Keponakan kami dan bekas budak-budak kami" memiliki penguat dari hadits Anas dalam riwayat al-Bukhari (6761) dan (6762).}


Kandungan Hadits:

  1. Seseorang menjadi mulia dan terhormat karena ketakwaannya kepada Allah. Orang yang bertakwa akan mendapatkan banyak kebaikan di dunia dan derajat yang tinggi di akhirat.
  2. Di dalamnya terdapat penjelasan tentang keutamaan kaum Quraisy, dan mereka dikenal mempunyai sifat jujur, amanah, dan menjaga persaudaraan, kasih sayang serta kesetiaan.
  3. Bekas budak yang dimerdekakan boleh menasabkan dirinya kepada kabilah yang membebaskannya atau kepada orang yang memelihara dan memuliakannya dengan catatan menjelaskan kedudukan yang asli.
  4. Takwa lebih utama dari status, keturunan, kedudukan, dan harta.






Bolehkah Seorang Budak Mengatakan, "AKU DARI FULAN"

Bab 39. BOLEHKAH SEORANG BUDAK MENGATAKAN, "AKU DARI FULAN"



Hadits ke 74.  Musa bin Isma'il mengabarkan kepada kami, ia berkata, 'Abdul Wahid bin Ziyad mengabarkan kepada kami, ia berkata: Wa`il bin Dawud al-Laitsi mengabarkan kepada kami, ia berkata:

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمٰنِ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ قَالَ‏:‏ قَالَ لِي عَبْدُ اللّٰهِ بْنِ عُمَرَ‏:‏ مِمَّنْ أَنْتَ‏؟‏ قُلْتُ‏:‏ مِنْ تَيْمِ تَمِيمٍ، قَالَ‏:‏ مِنْ أَنْفُسِهِمْ أَوْ مِنْ مَوَالِيهِمْ‏؟‏ قُلْتُ‏:‏ مِنْ مَوَالِيهِمْ، قَالَ‏:‏ فَهَلاَّ قُلْتَ‏:‏ مِنْ مَوَالِيهِمْ إِذًا‏؟

'Abdurrahman bin Abi Habib mengabarkan kepada kami, ia berkata, "Abdullah bin 'Umar berkata kepadaku, 'Dari siapa engkau?' Aku menjawab, 'Dari Taim Bani Tamim.' Ibnu 'Umar lalu bertanya, 'Dari keluarga mereka atau dari budak mereka?' Aku menjawab, 'Dari golongan bekas budak mereka (yang dimerdekakan). Ibnu Umar lalu berkata, 'Lalu mengapa tidak engkau katakan saja dari budak mereka?"

{ Isnadnya dha'if, karena Ibnu Abi Habib majhul (tidak dikenal).}

Kandungan Hadits:

  • Maula tidak boleh menasabkan dirinya kepada kabilah orang yang memerdekakannya secara langsung dan menyembunyikan keasliannya.






Pelajarilah Nasab Kalian Yang Dengannya Kalian Menyambung Silaturrahim

Bab 38 | PELAJARILAH NASAB KALIAN YANG DENGANNYA KALIAN MENYAMBUNG SILATURRAHIM




Hadits ke 72.  Amr bin Khalid mengabarkan kepada kami, ia berkata, 'Attab bin Basyir mengabarkan kepada kami dari Ishaq bin Rasyid, dari az-Zuhri, ia berkata:

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ، أَنَّ جُبَيْرَ بْنَ مُطْعِمٍ أَخْبَرَهُ، أَنَّهُ سَمِعَ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ يَقُولُ عَلَى الْمِنْبَرِ‏:‏ تَعَلَّمُوا أَنْسَابَكُمْ، ثُمَّ صِلُوا أَرْحَامَكُمْ، وَاللّٰهِ إِنَّهُ لِيَكُونُ بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ أَخِيهِ الشَّيْءُ، وَلَوْ يَعْلَمُ الَّذِي بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ مِنْ دَاخِلَةِ الرَّحِمِ، لَأَوْزَعَهُ ذَلِكَ عَنِ انْتِهَاكِهِ

Muhammad bin Jubair bin Muth'im mengabarkan kepadaku, Jubair bin Muth'im mengabarkan kepadanya, bahwa ia mendengar 'Umar bin al-Khaththab berbicara di atas mimbar, "Pelajarilah nasab kalian lalu sambunglah silaturrahim kalian. Demi Allah, bisa saja terjadi sesuatu di antara seseorang dengan saudaranya. Kalau sekiranya orang yang terjadi sesuatu dengan saudaranya itu tahu (keutamaan pahala) orang yang berada dalam silaturrahim, tentu hal itu akan mencegahnya untuk merusak hubungan silaturrahimnya."

{ Isnadnya hasan. 'Attab bin Basyir rawi yang shadhuq namun selalu keliru. Diriwayatkan oleh Ibnu Wahb dalam kitab al-Jami' (15).}

Kandungan Hadits:
  1. Anjuran agar mengenali nama-nama kerabat agar memudahkan berbuat baik kepada mereka. 
  2. Mengetahui bahwa kerabat dapat mencegah seseorang dari tindakan memutus hubungan dan perbuatan buruk terhadap mereka.



Hadits ke 73.  Ahmad bin Ya'qub mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ishaq bin Sa'id bin 'Amr mengabarkan kepada kami bahwa ia mendengar ayahnya mengabarkan:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّهُ قَالَ‏:‏ احْفَظُوا أَنْسَابَكُمْ، تَصَلُوا أَرْحَامَكُمْ، فَإِنَّهُ لاَ بُعْدَ بِالرَّحِمِ إِذَا قَرُبَتْ، وَإِنْ كَانَتْ بَعِيدَةً، وَلاَ قُرْبَ بِهَا إِذَا بَعُدَتْ، وَإِنْ كَانَتْ قَرِيبَةً، وَكُلُّ رَحِمٍ آتِيَةٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَمَامَ صَاحِبِهَا، تَشْهَدُ لَهُ بِصِلَةٍ إِنْ كَانَ وَصَلَهَا، وَعَلَيْهِ بِقَطِيعَةٍ إِنْ كَانَ قَطَعَهَا

Dari Ibnu Abbas, ia berkata, "Hafalkan nasab kalian agar kalian dapat menyambung silaturrahim, karena sesungguhnya kekeluargaan itu tidaklah jauh jika (memang) dekat (hubungannya), meskipun secara hubungan darah jauh. Dan tidak dekat silaturrahim itu jika jauh (hubungannya) meskipun secara hubungan darah dekat. Dan setiap rahim datang pada Hari Kiamat kelak di hadapan pasangannya. Dia bersaksi bahwa pasangannya telah menyambung silaturrahim atau memutusnya."

{ Mauquf, isnadnya shahih. Dan telah shahih secara marfu'. Diriwayatkan oleh ath-Thayalisi (2880), al-Hakim (1/89) dan (4/161). Lihat ash-Shahihah (277).}

Kandungan Hadits:
  1. Mengenal nasab dapat mendorong seseorang untuk menyambung hubungan rahim.
  2. Rahim adalah magnet yang dapat mendekatkan hubungan yang jauh. Sebaliknya, orang yang dekat tetaplah jauh jika tidak ada silaturrahim.
  3. Rahim akan berbicara dan bersaksi bagi orang yang menyambung atau memutusnya pada Hari Kiamat kelak.





Silaturrahim Dengan Orang Musyrik & Pemberian Hadiah Kepadanya

Bab 37. SILATURRAHIM DENGAN ORANG MUSYRIK & PEMBERIAN HADIAH KEPADANYA



Hadits ke 71.  Muhammad bin Salam mengabarkan kepada kami, ia berkata, 'Abdah mengabarkan kepada kami dari 'Ubaidullah, dari Nafi':

عَنِ ابْنِ عُمَرَ، رَأَى عُمَرُ حُلَّةً سِيَرَاءَ فَقَالَ‏:‏ يَا رَسُولَ اللّٰهِ، لَوِ اشْتَرَيْتَ هَذِهِ، فَلَبِسْتَهَا يَوْمَ الْجُمُعَةِ، وَلِلْوُفُودِ إِذَا أَتَوْكَ، فَقَالَ‏:‏ يَا عُمَرُ، إِنَّمَا يَلْبَسُ هَذِهِ مَنْ لاَ خَلاَقَ لَهُ، ثُمَّ أُهْدِيَ لِلنَّبِيِّ ﷺ مِنْهَا حُلَلٌ، فَأَهْدَى إِلَى عُمَرَ مِنْهَا حُلَّةً، فَجَاءَ عُمَرُ إِلَى رَسُولِ اللّٰهِ ﷺ فَقَالَ‏:‏ يَا رَسُولَ اللّٰهِ، بَعَثْتَ إِلَيَّ هَذِهِ، وَقَدْ سَمِعْتُكَ قُلْتَ فِيهَا مَا قُلْتَ، قَالَ‏:‏ إِنِّي لَمْ أُهْدِهَا لَكَ لِتَلْبَسَهَا، إِنَّمَا أَهْدَيْتُهَا إِلَيْكَ لِتَبِيعَهَا أَوْ لِتَكْسُوَهَا، فَأَهْدَاهَا عُمَرُ لأَخٍ لَهُ مِنْ أُمِّهِ مُشْرِكٍ

Dari Ibnu 'Umar, (suatu ketika) 'Umar bin al-Khaththab (ayahnya) melihat kain yang bercampur sutera. Ia berkata, "Wahai Rasulullah, belilah (kain) ini dan pakailah pada Hari Jum'at dan ketika datangnya para utusan." Rasulullah ﷺ lalu bersabda, "Wahai 'Umar, sesungguhnya yang memakai ini adalah orang yang tidak mendapat bagian (dari Surga di akhirat nanti)." Kemudian ketika Rasulullah ﷺ mendapat hadiah beberapa lembar kain, satu di antaranya dikirim kepada 'Umar. Maka 'Umar berkata, "Bagaimana aku memakainya sedangkan aku telah mendengar bahwa engkau mengatakan apa yang telah engkau katakan (tentang haramnya kain ini)?"  Rasulullah ﷺ lalu bersabda, "Aku tidak memberikannya kepadamu agar engkau pakai, melainkan aku memberikannya kepadamu untuk engkau jual atau memakaikannya (kepada orang lain)." 'Umar lalu mengirimkannya kepada saudara dari ibunya yang masih musyrik."

{ Muttafaq 'alaih. Sudah berlalu pada no. (26).}

Kandungan Hadits:
  • Penjelasannya telah disebutkan pada no. 26 dalam bab Berbakti kepada Orang Tua yang Musyrik.





Orang Yang Menyambung Hubungan Kekeluargaan Pada Zaman Jahiliyah Lalu Masuk Islam

Bab 36 | ORANG YANG MENYAMBUNG HUBUNGAN KEKELUARGAAN PADA ZAMAN JAHILIYAH LALU MASUK ISLAM



Hadits ke 70.  Abul Yaman mengabarkan kepada kami, ia berkata: Syu'aib mengabarkan kepada kami:

عَنِ الزُّهْرِيِّ قَالَ‏:‏ أَخْبَرَنِي عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ، أَنَّ حَكِيمَ بْنَ حِزَامٍ أَخْبَرَهُ، أَنَّهُ قَالَ لِلنَّبِيِّ ﷺ :‏ أَرَأَيْتَ أُمُورًا كُنْتُ أَتَحَنَّثُ بِهَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ، مِنْ صِلَةٍ، وَعَتَاقَةٍ، وَصَدَقَةٍ، فَهَلْ لِي فِيهَا أَجْرٌ‏؟‏ قَالَ حَكِيمٌ‏:‏ قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ ﷺ :‏ أَسْلَمْتَ عَلَى مَا سَلَفَ مِنْ خَيْرٍ‏

Dari az-Zuhri, ia berkata, 'Urwah bin az-Zubair mengabarkan kepadaku bahwa Hakim bin Hizam mengabarkan kepadanya, bahwa ia bertanya kepada Nabi ﷺ, "Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu mengenai perbuatan baik yang aku lakukan pada zaman jahiliyah; seperti hubungan kekeluargaan, memerdekakan budak dan memberi shadaqah, apakah aku (juga) mendapat pahala dari perbuatan itu?" Hakim berkata, "Rasulullah ﷺ menjawab, 'Engkau masuk Islam dengan (mendapatkan) segala kebaikan yang (telah engkau lakukan pada masa) lalu."

{ HR. Al-Bukhari: kitab az-Zakah (24) bab Man Tashaddaqa fisy Syirki Tsumma Aslama dan Muslim (1) kitab al-Iman (hadits no. 194, 195 dan 196)].}

Kandungan Hadits:
  • Jika orang kafir melakukan perbuatan baik kemudian ia masuk Islam dan wafat dalam keadaan Islam, maka kebaikan-kebaikannya ketika masih kafir akan diberikan kepadanya sebagai karunia dari Allah Ta'ala.





Keutamaan Orang Yang Menyambung Silaturrahim Kepada Kerabat Yang Zhalim

Bab 35 | KEUTAMAAN ORANG YANG MENYAMBUNG SILATURRAHIM KEPADA KERABAT YANG ZHALIM



Hadits ke 69.  Malik bin Isma'il mengabarkan kepada kami, ia berkata, 'Isa bin 'Abdirrahman mengabarkan kepada kami dari Thalhah, dari 'Abdurrahman bin 'Ausajah:

 
 عَنِ الْبَرَاءِ قَالَ‏:‏ جَاءَ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ‏:‏ يَا نَبِيَّ اللّٰهِ، عَلِّمْنِي عَمَلاً يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ، قَالَ‏:‏ لَئِنْ كُنْتَ أَقَصَرْتَ الْخُطْبَةَ لَقَدْ أَعْرَضْتَ الْمَسْأَلَةَ، أَعْتِقِ النَّسَمَةَ، وَفُكَّ الرَّقَبَةَ قَالَ‏:‏ أَوَ لَيْسَتَا وَاحِدًا‏؟‏ قَالَ‏:‏ لاَ، عِتْقُ النَّسَمَةِ أَنْ تَعْتِقَ النَّسَمَةَ، وَفَكُّ الرَّقَبَةِ أَنْ تُعِينَ عَلَى الرَّقَبَةِ، وَالْمَنِيحَةُ الرَّغُوبُ، وَالْفَيْءُ عَلَى ذِي الرَّحِمِ، فَإِنْ لَمْ تُطِقْ ذَلِكَ، فَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ، وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ، فَإِنْ لَمْ تُطِقْ ذَلِكَ، فَكُفَّ لِسَانَكَ إِلاَّ مِنْ خَيْرٍ‏

Dari al-Bara ia berkata, "Seorang Arab Badui mendatangi Rasulullah ﷺ lalu berkata, "Wahai Nabiyyallah, beritahukanlah kepadaku amalan yang dapat memasukkanku ke dalam Surga.' Rasulullah ﷺ bersabda, 'Meskipun Engkau berbicara singkat tetapi engkau telah memperluas pertanyaan. A'tiqin nasamah dan fakkir raqabah.' Orang Badui itu berkata, 'Wahai Rasulullah, bukankah keduanya sama?' Rasulullah ﷺ menjawab, 'Tidak, 'atqin nasamah adalah engkau (sendiri) yang memerdekakan budak, sedangkan fakkir raqabah adalah engkau saling membantu dalam memerdekakannya, dan pemberian berupa unta yang sangat banyak manfaatnya serta mengembalikan (memulihkan kembali) silaturrahim. Jika engkau tidak mampu melaksanakan itu maka ajaklah orang lain berbuat baik dan cegahlah mereka dari keburukan. Jika engkau tidak mampu melaksanakan itu maka tahanlah lisanmu, kecuali dari kebaikan. "

{ Shahih. HR. Ath-Thayalisi (775), Ahmad (4/299) dan al-Hakim (2/217)}

Kandungan Hadits:
  • Di antara amal-amal yang menjadi penyebab seseorang masuk ke dalam Surga adalah berbuat baik yang bersifat materil maupun moril kepada kerabat, seperti berlemah lembut, mencintai mereka dan memberi mereka unta yang memiliki banyak air susu.





Bukanlah Penyambung Silaturrahim Orang Yang Membalas

Bab 34 | BUKANLAH PENYAMBUNG SILATURRAHIM ORANG YANG MEMBALAS



Hadits ke 68.  Muhammad bin Katsir mengabarkan kepada kami, ia berkata: Sufyan mengabarkan kepada kami dari al-A'masy, Hasan bin 'Amr dan Fithr, dari Mujahid:

عَنْ عَبْدِ اللّٰهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ سُفْيَانُ لَمْ يَرْفَعْهُ الأَعْمَشُ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ، وَرَفَعَهُ الْحَسَنُ وَفِطْرٌ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ‏:‏ لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ، وَلَكِنَّ الْوَاصِلَ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا

Dari 'Abdullah bin 'Amr ia berkata --Sufyan tidak menyampaikan sanadnya kepada Nabi ﷺ, tetapi merafa' kannya sampai pada al-Hasan dan Fithr~ dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, "Orang yang menyambung silaturrahim bukanlah yang membalas, melainkan orang yang menyambung adalah orang yang jika silaturrahimnya diputus, ia tetap menyambungnya."

{ Diriwayatkan oleh al-Bukhari: kitab al-Adab, bab Laisal Washil bil Mukafi' (5991).}

Kandungan Hadits:
  1. Setiap muslim wajib memulai menyambung hubungan rahimnya dan tetap mempertahankan hubungan itu meskipun mereka tidak mau memberikan balasan yang baik.
  2. Kewajiban mengikhlaskan amal hanya untuk Allah.
  3. Seorang muslim tidak seyogianya memutus kebaikan hanya karena dia mendapat perlakuan buruk atau karena tidak mendapat balasan yang sama.





Hukuman Bagi Orang Yang Memutus Tali Silaturrahim

Bab 33 | HUKUMAN ORANG YANG MEMUTUS SILATURRAHIM DI DUNIA



Hadits ke 67.  Adam mengabarkan kepada kami, ia berkata: Syu'bah mengabarkan kepada kami, ia berkata:

حَدَّثَنَا عُيَيْنَةُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ‏:‏ سَمِعْتُ أَبِي يُحَدِّثُ، عَنْ أَبِي بَكْرَةَ قَالَ‏:‏ قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ ﷺ :‏ مَا مِنْ ذَنْبٍ أَحْرَى أَنْ يُعَجِّلَ اللّٰهُ لِصَاحِبِهِ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا، مَعَ مَا يَدَّخِرُ لَهُ فِي الْآخِرَةِ، مِنْ قَطِيعَةِ الرَّحِمِ وَالْبَغْيِ‏

'Uyainah bin 'Abdirrahman mengabarkan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar ayahku bercerita dari Abu Bakrah, ia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda, 'Tidak ada dosa yang lebih pantas disegerakan balasannya oleh Allah terhadap pelakunya di dunia --berikut adzab baginya yang disimpan untuknya di akhirat kelak-- dibanding perbuatan memutus silaturrahim dan melampaui batas."

{ Shahih. Sudah berlalu pada no. 29. }

Kandungan Hadits:
  • Penjelasannya telah disebutkan pada hadits no. 29 bab Durhaka kepada Kedua Orang Tua.





Dosa Orang Yang Memutus Silaturrahim

Bab 32 | DOSA ORANG YANG MEMUTUS SILATURRAHIM



Hadits ke 64.  'Abdullah bin Shalih mengabarkan kepada kami, ia berkata: Al-Laits mengabarkan kepadaku, ia berkata, 'Aqil mengabarkan kepadaku dari Ibnu Syihab:


أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ، أَنَّ جُبَيْرَ بْنَ مُطْعِمٍ أَخْبَرَهُ، أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللّٰهِ ﷺ يَقُولُ‏:‏ لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعُ رَحِمٍ


Muhammad bin Jubair bin Muth'im mengabarkan kepadaku bahwa Jubair bin Muth'im mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidak masuk Surga orang yang memutus silaturrahim."


{ HR. Al-Bukhari: kitab al-Adab, bab itsmul Qathi" (5984) dan Muslim: kitab al-Birr wash Shilah, bab Shilaturrahim (18 dan 19).}


Kandungan Hadits:

  • Besarnya dosa orang yang memutus hubungan rahim, yang mana ia diancam tidak masuk Surga. An-Nawawi dan yang lainnya mengatakan, "Yang dimaksud tidak masuk Surga adalah bisa bagi orang yang menghalalkan tindakan memutus hubungan. Bisa juga maksud yang lain adalah dia tidak akan masuk Surga bersama golongan pertama yang masuk Surga (saabiquun)."




Hadits ke 65.  Hajjaj bin Minhal mengabarkan kepada kami, ia berkata: Syu'bah mengabarkan kepada kami, la berkata:


أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْجَبَّارِ قَالَ‏:‏ سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ كَعْبٍ، أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ يُحَدِّثُ، عَنْ رَسُولِ اللّٰهِ ﷺ قَالَ‏:‏ إِنَّ الرَّحِمَ شُجْنَةٌ مِنَ الرَّحْمَنِ، تَقُولُ‏:‏ يَا رَبِّ، إِنِّي ظُلِمْتُ، يَا رَبِّ، إِنِّي قُطِعْتُ، يَا رَبِّ، إِنِّي إِنِّي، يَا رَبِّ، يَا رَبِّ‏.‏ فَيُجِيبُهَا‏:‏ أَلاَ تَرْضَيْنَ أَنْ أَقْطَعَ مَنْ قَطَعَكِ، وَأَصِلَ مَنْ وَصَلَكِ‏؟


Muhammad bin 'Abdil Jabbar mengabarkan kepadaku, ia berkata: Aku mendengar Muhammad bin Ka'b bahwa ia mendengar Abu Hurairah berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda, 'Rahim adalah akar dari Allah Yang Maha Rahman dan ia berkata, 'Wahai Rabb-ku, sesungguhnya aku dizhalimi. Wahai Rabb-ku, sesungguhnya aku diputus. Wahai Rabb-ku, sesungguhnya aku.... sesungguhnya aku.... [Wahai Rabb-ku, wahai Rabb-ku]." Allah lalu menjawab, 'Apakah engkau mau jika Aku putus orang yang memutusmu dan aku sambung orang yang menyambungmu?"


{ Hasan lighairihi. Isnad al-Bukhari di sini dha'if, karena Muhammad bin Abdil Jabbar majhul. Diriwayatkan oleh ath-Thayalisi (266), Ahmad (2/295), Ibnu Hibban (442) dan al-Hakim (4/ 162). Al-Bukhari meriwayatkan melalui Abu Shalih dari Abu Hurairah (5987) }


Kandungan Hadits:

  • Telah dijelaskan hadits yang serupa dengan hadits ini, yaitu hadits no. 55 dalam bab Keutamaan Silaturrahim. Silahkan dilihat kembali.




Hadits ke 66.  Adam bin Abi lyas mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ibnu Abi Dzi`b mengabarkan kepada kami, ia berkata:


حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ سَمْعَانَ قَالَ‏:‏ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَتَعَوَّذُ مِنْ إِمَارَةِ الصِّبْيَانِ وَالسُّفَهَاءِ‏.‏ فَقَالَ سَعِيدُ بْنُ سَمْعَانَ‏:‏ فَأَخْبَرَنِي ابْنُ حَسَنَةَ الْجُهَنِيُّ أَنَّهُ قَالَ لأَبِي هُرَيْرَةَ‏:‏ مَا آيَةُ ذَلِكَ‏؟‏ قَالَ‏:‏ أَنْ تُقْطَعَ الأَرْحَامُ، وَيُطَاعَ الْمُغْوِي، وَيُعْصَى الْمُرْشِدُ‏


Sa'id bin Sam'an mengabarkan kepada kami, ia berkata, "Aku mendengar Abu Hurairah berlindung dari berkuasanya anak-anak kecil dan orang-orang bodoh." Sa'id bin Sam'an berkata, "Ibnu Hasanah al-Juhani lalu memberitahuku bahwa ia berkata kepada Abu Hurairah, 'Apa tandanya?' la menjawab, 'Silaturrahim diputus dan orang yang mengajak kepada kesesatan dituruti serta yang mengajak kepada kebenaran ditentang."


{ Shahih selain riwayat al-Juhani, karena dia tidak dikenal. Lihat ash-Shahihah (3191). }


Kandungan Hadits:

  • Hadits ini berisi larangan memutus hubungan rahim, mentaati orang yang menyesatkan dan mendurhakai orang yang lurus.






Rahmat Tidak Turun Kepada Kaum Yang Didalamnya Ada Orang Yang Memutuskan Silaturrahim

Bab 31 | RAHMAT TIDAK TURUN KEPADA KAUM YANG DI DALAMNYA ADA ORANG YANG MEMUTUSKAN SILATURRAHIM



Hadits ke 63.  'Ubaidullah bin Musa mengabarkan kepada kami, ia berkata:


أَخْبَرَنَا سُلَيْمَانُ أَبُو إِدَامٍ قَالَ‏:‏ سَمِعْتُ عَبْدَ اللّٰهِ بْنَ أَبِي أَوْفَى يَقُولُ‏:‏ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ‏:‏ إِنَّ الرَّحْمَةَ لاَ تَنْزِلُ عَلَى قَوْمٍ فِيهِمْ قَاطِعُ رَحِمٍ


Sulaiman Abu Idam mengabarkan kepada kami, ia berkata, "Aku mendengar 'Abdullah bin Abi Aufa berkata, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, 'Sesungguhnya rahmat tidak turun kepada kaum yang di dalamnya ada orang yang memutus (silaturrahim)"


{ Dha'if jiddan. Sulaiman Abu Idan matrukul hadits. Lihat adh-Dha'ifah (1456). Diriwayatkan oleh Waki' dalam kitab az-Zuhd (412) dan al-Baihaqi dalam kitab Syu'abul Iman (7962).}


Kandungan Hadits: 

  1. Rahmat tidak akan turun kepada orang yang memutus hubungan rahim.
  2. Memutus hubungan rahim menjadi penyebab kekeringan, terputusnya rizki dan kebinasaan ummat.







Berbakti Kepada Keluarga Yang Paling Dekat Lalu Yang Berikutnya

Bab 30 | BERBAKTI KEPADA KELUARGA YANG PALING DEKAT LALU YANG BERIKUTNYA


Hadits ke 60.  Haiwah bin Syuraih mengabarkan kepada kami, ia berkata: Baqiyyah mengabarkan kepada kami dari Bahir, dari Khalid bin Ma'dan :


عَنِ الْمِقْدَامِ بْنِ مَعْدِي كَرِبَ، أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللّٰهِ ﷺ يَقُولُ‏:‏ إِنَّ اللَّهَ يُوصِيكُمْ بِأُمَّهَاتِكُمْ، ثُمَّ يُوصِيكُمْ بِأُمَّهَاتِكُمْ، ثُمَّ يُوصِيكُمْ بِآبَائِكُمْ، ثُمَّ يُوصِيكُمْ بِالأَقْرَبِ فَالأَقْرَبِ


Dari al-Miqdam bin Ma'dikarib, bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya Allah berwasiat kepada kalian (untuk berbuat baik) kepada ibu-ibu kalian lalu berwasiat kepada kalian (untuk berbuat baik) kepada ibu-ibu kalian, lalu berwasiat kepada kalian (untuk berbuat baik) kepada ayah-ayah kalian lalu berwasiat kepada kalian (untuk berbuat baik pula) kepada orang terdekat, lalu yang terdekat berikutnya."


{ Shahih. HR. Ahmad (4/132), Ibnu Majah: kitab al-Adab, bab Birrul Walidain (3661) melalui Isma'il bin 'lyasy dari Buhair. Lihat ash-Shahihah (1666).}


Kandungan Hadits:

  1. Wasiat Rasulullah ﷺ yang sangat ditekankan agar berbuat baik kepada ibu karena beratnya penderitaan yang dialami ketika hamil, melahirkan, dan menyusui. Selain itu, biasanya orang-orang meremehkan ibu dengan tidak memenuhi hak-haknya. Pengulangan ini menunjukkan penegasan.
  2. Tidak adanya pengulangan wasiat terhadap kerabat menunjukkan bahwa hak mereka tidak sebesar hak kedua orang tua. Meskipun begitu, tetap ditekankan untuk berbuat baik kepada kerabat.
  3. Pengulangan kata kerja yang disertai penegasan menunjukkan pentingnya wasiat tersebut.




Hadits ke 61.  Musa bin Isma'il mengabarkan kepada kami, ia berkata: Al-Khazraj bin 'Utsman Abul Khaththab as-Sa'di mengabarkan kepada kami, ia berkata:


أَخْبَرَنَا أَبُو أَيُّوبٍ سُلَيْمَانُ مَوْلَى عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ قَالَ‏:‏ جَاءَنَا أَبُو هُرَيْرَةَ عَشِيَّةَ الْخَمِيسِ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ فَقَالَ‏:‏ أُحَرِّجُ عَلَى كُلِّ قَاطِعِ رَحِمٍ لَمَا قَامَ مِنْ عِنْدِنَا، فَلَمْ يَقُمْ أَحَدٌ حَتَّى قَالَ ثَلاَثًا، فَأَتَى فَتًى عَمَّةً لَهُ قَدْ صَرَمَهَا مُنْذُ سَنَتَيْنِ، فَدَخَلَ عَلَيْهَا، فَقَالَتْ لَهُ‏:‏ يَا ابْنَ أَخِي، مَا جَاءَ بِكَ‏؟‏ قَالَ‏:‏ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ كَذَا وَكَذَا، قَالَتِ‏:‏ ارْجِعْ إِلَيْهِ فَسَلْهُ‏:‏ لِمَ قَالَ ذَاكَ‏؟‏ قَالَ‏:‏ سَمِعْتُ النَّبِيَّ ﷺ يَقُولُ‏:‏ إِنَّ أَعْمَالَ بَنِي آدَمَ تُعْرَضُ عَلَى اللّٰهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَشِيَّةَ كُلِّ خَمِيسٍ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ، فَلاَ يَقْبَلُ عَمَلَ قَاطِعِ رَحِمٍ‏


Abu Ayyub Sulaiman maula 'Utsman bin 'Affan mengabarkan kepada kami, ia mengatakan bahwa Abu Hurairah pernah datang menemuinya pada Kamis sore malam Jum'at. Ia berkata, "Aku akan membuat tidak nyaman orang yang memutus silaturrahim ketika dia menemui kami." Maka tidak ada seorang pun yang berdiri. Abu Hurairah mengucapkannya tiga kali. Lalu seorang pemuda menemui bibinya yang ia tinggalkan sejak dua tahun. Kemudian bibinya itu berkata, "Wahai anak saudaraku, apa yang engkau bawa?" Pemuda itu berkata, "Aku mendengar Abu Hurairah berkata ini dan itu." Bibinya lalu menjawab, "Kembalilah kepadanya dan tanyakan mengapa ia berkata demikian." Abu Hurairah lalu berkata, "Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, 'Sesungguhnya perbuatan manusia diperlihatkan kepada Allah ﷻ setiap petang hari Kamis, malam Jum'at. Lalu Allah tidak menerima amal orang yang memutus silaturrahim."


{ Hasan. Abu Ayyub ini adalah 'Abdullah bin Abi Sulaiman, ada juga yang mengatakan bahwa namanya: Sulaiman, ia shaduq. (Lihat kitab Tahdzibul Kamal 15/65-66 + catatan kaki), dan al-Khazraj bin 'Utsman, Ibnu Ma'in berkata: "Orang shalih." Ahmad dan al-'Ajli: "Tsiqah." (Lihat Tahdzibut Tahdzib 1/541, al-'Ilal wa Ma'rifatur Rijal -riwayat al-Marwadzi hlm. 76). Ahmad (2/483) meriwayatkan bagian yang marfu' dari hadits ini, dan al-Baihaqi dalam kitab Syu'abul Iman (7966).}


Kandungan Hadits:

  1. Di dalamnya terdapat penjelasan tentang keutamaan malam Jum'at karena amal akan diperlihatkan pada waktu itu kepada Allah ﷻ. Di dalamnya juga terdapat petunjuk bahwa seseorang hendaknya menghitung amalnya dan mawas diri pada Kamis sore untuk memasuki malam Jum'at dalam kondisi terbaik.
  2. Di dalamnya disebutkan ancaman yang sangat keras terhadap orang yang memutus hubungan rahim.




Hadits ke 62.  Muhammad bin 'Imran bin Abi Laila mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ayyub bin Jabir al-Hanafi mengabarkan kepada kami dari Adam bin 'Ali:


عَنِ ابْنِ عُمَرَ‏:‏ مَا أَنْفَقَ الرَّجُلُ عَلَى نَفْسِهِ وَأَهْلِهِ يَحْتَسِبُهَا إِلاَّ آجَرَهُ اللّٰهُ تَعَالَى فِيهَا، وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ، فَإِنْ كَانَ فَضْلاً فَالأَقْرَبَ الأَقْرَبَ، وَإِنْ كَانَ فَضْلاً فَنَاوِلْ‏


Dari Ibnu Umar (ia berkata), "Tidaklah orang yang memberi nafkah untuk diri dan keluarganya, di mana ia mengharapkan pahala, melainkan Allah Ta'ala niscaya membalasnya. Dan mulailah dengan orang yang menjadi tanggunganmu. Namun, jika ada kelebihan, maka kepada kerabat yang lebih dekat. Jika masih ada kelebihan, maka berikan kepada orang yang membutuhkan."


{ Dha'if. Di dalam isnadnya ada Muhammad bin 'Imran dan Syaikhnya yang bernama Ayyub, keduanya dha'if. Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab az-Zakah, bab al-Ibtida fin Nafagati bin Nafsi (41) seperti hadits ini secara marfu' dari hadits Abu Hurairah. }


Kandungan Hadits:

  1. Nafkah yang diberikan seseorang kepada dirinya sendiri, anak-anaknya dan orang-orang yang menjadi tanggungannya dengan mengharap pahala dari Allah dan dalam rangka melaksanakan perintah-Nya menjadi penyebab baginya mendapatkan kebaikan, pahala dan balasan yang baik.
  2. Anjuran agar mendahulukan shadaqah kepada kerabat sesuai dengan tingkat kedekatan mereka, yakni dimulai dari yang paling dekat hubungan kekerabatannya, kemudian yang berikutnya.
  3. Shadaqah yang diberikan kepada kerabat lebih utama dibanding shadaqah yang diberikan kepada orang lain yang bukan kerabat.






Orang Yang Menyambung Hubungan Kekeluargaan Akan Dicintai Allah

Bab 29 | ORANG YANG MENYAMBUNG HUBUNGAN KEKELUARGAAN AKAN DICINTAI ALLAH



Hadits ke 58.  Muhammad bin Katsir mengabarkan kepada kami, ia berkata: Sufyan mengabarkan kepada kami dari Abu Ishaq, dari Maghra":

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ‏:‏ مَنِ اتَّقَى رَبَّهُ، وَوَصَلَ رَحِمَهُ، نُسِّئَ فِي أَجَلِهِ، وَثَرَى مَالُهُ، وَأَحَبَّهُ أَهْلُهُ

Dari Ibnu 'Umar ia berkata, "Barangsiapa yang bertakwa kepada Rabb-nya dan menyambung silaturrahim, akan dipanjangkan umurnya dan akan dibanyakkan hartanya serta dijadikan keluarganya mencintainya."

{ Hasan. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah (25391) melalui Abu Ishaq. Sama dengan riwayat dari Abu Hurairah secara marfu' oleh at-Tirmidzi (1979) dengan sanad yang jayyid. Lihat as- Silsilah ash-Shahihah (276).}




Hadits ke 59.  Abu Na'im mengabarkan kepada kami, ia berkata: Yunus bin Abi Ishaq mengabarkan kepada kami, ia berkata: Maghra Abu Mukhariq al-'Abdi mengabarkan kepadaku, ia berkata:

قَالَ ابْنُ عُمَرَ‏:‏ مَنِ اتَّقَى رَبَّهُ، وَوَصَلَ رَحِمَهُ، أُنْسِئَ لَهُ فِي عُمْرِهِ، وَثَرَى مَالُهُ، وَأَحَبَّهُ أَهْلُهُ‏

Ibnu 'Umar berkata, "Barangsiapa bertakwa kepada Rabb-nya dan menyambung silaturrahim, akan dipanjangkan umurnya dan akan dibanyakkan hartanya serta dijadikan keluarganya mencintainya."

{ Isnadnya sama dengan sebelumnya (hasan). Diriwayatkan oleh Waki' dalam kitab az-Zuhd (408) dan al-Baihaqi dalam kitab Syu'abul Iman (7970). }


Kandungan Hadits (58 dan 59):
  • Takwa dan menyambung hubungan rahim adalah penyebab utama mendapat kelapangan rizki, harta dan kehidupan yang penuh berkah, serta mendapatkan cinta kasih dan penghormatan dari keluarga.





Silaturrahim Menambah Umur | Al Adabul Mufrod

Bab 28 | SILATURRAHIM MENAMBAH UMUR


Hadits ke 56.  'Abdullah bin Shalih mengabarkan kepada kami, ia berkata: Al-Laits mengabarkan kepadaku, ia berkata, 'Uqail menceritakan kepadaku dari Ibnu Syihab, ia berkata:


أَخْبَرَنِي أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ، أَنَّ رَسُولَ اللّٰهِ ﷺ قَالَ‏:‏ مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ


Anas bin Malik mengabarkan kepadaku, ia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda, Barangsiapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah ia menyambung silaturrahim. "


{ HR. Al-Bukhari: kitab al-Adab, bab Man Busitha lahu fir Rizgi bi Shilatirrahim (5986) dan Muslim: kitab al-Birr wash Shilah, bab Shilaturrahim wa Tahrimi Qathi'atiha (20).}





Hadits ke 57.  Ibrahim bin al-Mundzir mengabarkan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ma'n mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ayahku mengabarkan kepadaku dari Sa'id bin Abi Sa'id al-Maqburi:


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ‏:‏ سَمِعْتُ رَسُولَ اللّٰهِ ﷺ يَقُولُ‏:‏ مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ‏


Dari Abu Hurairah, ia berkata, "Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, 'Barangsiapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah ia menyambung silaturrahim. "


{ HR. Al-Bukhari: kitab al-Adab, bab Man Busitha lahuu fir Rizqi bi Shilatirrahim (5985). }



Kandungan Hadits:

  • Menyambung hubungan rahim menjadi penyebab diluaskannya rizki dan diberikannya keberkahan di dalamnya. Al-'Allamah al-Albani berkata, "Iman bertambah dan berkurang, ia bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Hal itu tidaklah menafikan ketetapan yang sudah tertulis di Lauhul Mahfuzh. Demikian juga dengan umur. Umur bisa bertambah dan berkurang sesuai dengan sebab-sebabnya. Hal ini tidak menafikan ketetapan yang tertulis di dalam Lauhul Mahfuzh. Oleh karena itu disebutkan dalam hadits-hadits marfu' dan atsar-atsar mauquf bahwa do'a itu bisa memperpanjang umur. Begitu pula akhlak dan sikap yang baik terhadap tetangga.






Keutamaan Silaturrahim

Bab 27 | KEUTAMAAN SILATURRAHIM


Hadits ke 52.  Muhammad bin 'Ubaidillah mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ibnu Abi Hazm mengabarkan kepada kami dari al-'Ala`, dari ayahnya:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ‏:‏ أَتَى رَجُلٌ النَّبِيَّ ﷺ فَقَالَ‏:‏ يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ لِي قَرَابَةً أَصِلُهُمْ وَيَقْطَعُونَ، وَأُحْسِنُ إِلَيْهِمْ وَيُسِيئُونَ إِلَيَّ، وَيَجْهَلُونَ عَلَيَّ وَأَحْلُمُ عَنْهُمْ، قَالَ‏:‏ لَئِنْ كَانَ كَمَا تَقُولُ كَأَنَّمَا تُسِفُّهُمُ الْمَلَّ، وَلاَ يَزَالُ مَعَكَ مِنَ اللهِ ظَهِيرٌ عَلَيْهِمْ مَا دُمْتَ عَلَى ذٰلِكَ

Dari Abu Hurairah, ia berkata, "Seorang laki-laki mendatangi Nabi ﷺ seraya berkata, 'Wahai Rasulullah, aku mempunyai keluarga yang aku sambung silaturrahim mereka, tetapi mereka memutus. Aku berbuat baik kepada mereka, tetapi mereka berbuat buruk terhadapku. Mereka bersikap keras terhadapku, padahal aku bersikap sabar dan lapang terhadap mereka.' Rasulullah ﷺ menjawab, 'Kalau demikian halnya seperti yang engkau katakan, (maka) seolah-olah engkau memberi mereka makan bara api, dan Allah senantiasa menjadi Penolongmu selama engkau tetap seperti itu. "

{ HR. Muslim: kitab al-Birr wash Shilah, bab Shilaturrahim wa Tahrim Qathi'atiha (22).}

Kandungan Hadits:
  1. Hukum asal dalam bergaul dengan kerabat yakni hendaknya berbuat baik, bersabar dan memaklumi, bukan bergaul untuk menerima atau memberi.
  2. Melaksanakan perintah Allah adalah penyebab datangnya pertolongan, bantuan dan taufiq dari-Nya. 
  3. Memutus hubungan rahim adalah sesuatu yang menyakitkan dan menyiksa di dunia serta menjadi sebab kerugian dan penyesalan di akhirat.
  4. Setiap hamba hendaknya mengharapkan pahala dari Allah ketika menunaikan hak-hak dan berbuat baik kepada kerabat dan orang lain.



Hadits ke 53.  Isma'il bin Abi Uwais mengabarkan kepada kami, ia berkata: Saudaraku mengabarkan kepadaku dari Sulaiman bin Bilal, dari Muhammad bin Abi 'Atiq, dari Ibnu Syihab, dari Abu Salamah bin 'Abdirrahman, dari Abur Raddad al-Laits mengabarkan kepadanya :

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمٰنِ بْنِ عَوْفٍ، أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ‏:‏ قَالَ اللّٰهُ عَزَّ وَجَلَّ‏:‏ أَنَا الرَّحْمَنُ، وَأَنَا خَلَقْتُ الرَّحِمَ، وَاشْتَقَقْتُ لَهَا مِنَ اسْمِي، فَمَنْ وَصَلَهَا وَصَلْتُهُ، وَمَنْ قَطَعَهَا بَتَتُّهُ‏

Dari 'Abdurrahman bin 'Auf, ia mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, "Allah ﷻ berfirman, 'Aku adalah ar-Rahman, Aku menciptakan rahim dan Aku ambil sebutan untuknya dari Nama-Ku. Barangsiapa yang menyambungnya akan Aku sambung, dan barangsiapa yang memutusnya akan Aku putus."

{ Shahih lighairihi. HR. Ahmad (1/194), Abu Dawud: kitab az-Zakah, bab Shilaturrahim (1694- 1695), at-Tirmidzi: kitab al-Birr wash Shilah, bab Ma Ja'a fii Qathi'atir Rahim (1907). Hadits ini juga diperkuat dengan hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Ahmad (2/498). Lihat ash-Shahihah (520).}

Kandungan Hadits:
  1. Rahim adalah salah satu pengaruh rahmat Allah Yang Maha Rahman, dan setiap mukmin harus berakhlak dengan akhlak Allah Ta'ala serta menghimbasi perilakunya dengan Asma' dan sifat-sifat-Nya.
  2. Penyebutan isytiqaq rahim dari ar-Rahman merupakan bentuk isti'arah dan sebagai petunjuk akan kedudukannya yang agung. 
  3. Dalam hadits tersebut terdapat keagungan rahim dan penjelasan tentang keutamaannya serta besamya dosa memutus kerahiman.
  4. Rahmat itu terbatas pada ittiba' kepada al-Kitab dan as-Sunnah. Menegakkan hukum hadd dan menegakkan hukuman atas pelanggaran terhadap hukum Allah tidaklah menafikan rahmat yang dimaksud dalam hadits ini.



Hadits ke 54.  Musa bin Isma'il mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu 'Awanah mengabarkan kepada kami dari 'Utsman bin al-Mughirah:

عَنْ أَبِي الْعَنْبَسِ قَالَ‏:‏ دَخَلْتُ عَلَى عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو فِي الْوَهْطِ يَعْنِي أَرْضًا لَهُ بِالطَّائِفِ، فَقَالَ‏:‏ عَطَفَ لَنَا النَّبِيُّ ﷺ إِصْبَعَهُ فَقَالَ‏:‏ الرَّحِمُ شُجْنَةٌ مِنَ الرَّحْمَنِ، مَنْ يَصِلْهَا يَصِلْهُ، وَمَنْ يَقْطَعْهَا يَقْطَعْهُ، لَهَا لِسَانٌ طَلْقٌ ذَلْقٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Dari Abul 'Anbas, ia berkata, "Aku menemui 'Abdullah bin 'Amr di Wahth -yakni sebidang tanah miliknya di Tha`if-, lalu ia berkata, 'Rasulullah ﷺ menyilangkan jari-jemarinya seraya bersabda, 'Rahim berasal dari ar-Rahman. Barangsiapa menyambungnya, Dia akan menyambungnya, dan siapa yang memutusnya, Dia akan memutusnya. Rahim mempunyai lidah yang lancar dan fasih pada Hari Kiamat."

{ Shahih lighairihi. Isnadnya di sini lemah, karena Abul 'Anbas tidak dikenal. Lihat kitab Ghayatul Maram (406). Diriwayatkan ath-Thayalisi (2364), Waki' dalam kitab az-Zuhd (402) melalui Abul 'Anbas. Diriwayatkan juga oleh Ahmad (2/189), al-Hakim (4/162) melalui Abu Tsumamah ats-Tsaqafi dari 'Abdullah, dan hadits 'Aisyah berikutnya menguatkannya serta hadits Abu Hurairah pada nomor (65).}

Kandungan Hadits:
  1. Penegasan haramnya memutus hubungan rahim, dan tidak menyambung hubungan rahim termasuk dosa besar. 
  2. Pengagungan terhadap rahim, dan menyambung hubungan rahim adalah amal Sunnah yang sangat dianjurkan.
  3. Rahim dapat berbicara dan mengadukan orang yang memutusnya kepada Allah pada Hari Kiamat.
  4. Rahim berasal dari Asma' ar-Rahman. Karena itu, barangsiapa yang menyambungnya, Allah pasti menyambungnya. Sebaliknya orang yang memutusnya, Allah juga memutus rahmat-Nya darinya.



Hadits ke 55.  Isma'il mengabarkan kepada kami, ia berkata: Sulaiman mengabarkan kepadaku dari Mu'awiyah bin Abi Muzarrad, dari Yazid bin Marwan, dari 'Urwah bin az-Zubair:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهَا، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ‏:‏ الرَّحِمُ شُجْنَةٌ مِنَ اللهِ، مَنْ وَصَلَهَا وَصَلَهُ اللّٰهُ، وَمَنْ قَطَعَهَا قَطَعَهُ اللّٰهُ‏

Dari 'Aisyah radhiyallahu anha bahwa Nabibﷺ bersabda, "Rahim adalah akar dari Allah, barangsiapa menyambungnya la akan disambung oleh Allah, dan siapa yang memutusnya ia akan diputus oleh Allah." 

{ HR. Al-Bukhari: kitab al-Adab, bab Man Washala Washalahullahu (5989) dan Muslim: kitab al- Birr wash Shilah, bab Shilaturrahim wa Tahrimi qathi'atiha (17).}

Penjelasannya telah disebutkan pada hadits no. 53 dan 54.





Silaturrahim | Al-Adabul Mufrod

Bab 26 | SILATURRAHIM



Hadits ke 49   Abu Na'im mengabarkan kepada kami, ia berkata, 'Amr bin 'Utsman bin 'Abdillah bin Mauhib mengabarkan kepada kami, ia berkata: Aku mendengar Musa bin Thalhah menyebutkan:

عَنْ أَبِي أَيُّوبَ الأَنْصَارِيِّ، أَنَّ أَعْرَابِيًّا عَرَضَ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ فِي مَسِيرِهِ، فَقَالَ‏:‏ أَخْبِرْنِي مَا يُقَرِّبُنِي مِنَ الْجَنَّةِ، وَيُبَاعِدُنِي مِنَ النَّارِ‏؟‏ قَالَ‏:‏ تَعْبُدُ اللَّهَ وَلاَ تُشْرِكْ بِهِ شَيْئًا، وَتُقِيمُ الصَّلاَةَ، وَتُؤْتِي الزَّكَاةَ، وَتَصِلُ الرَّحِمَ

Dari Abu Ayyub al-Anshari bahwa seorang Arab Badui menemui Nabi ﷺ ketika beliau dalam perjalanan. Lelaki Badui itu berkata, "Beritahukanlah kepadaku apa yang dapat mendekatkanku kepada Surga dan menjauhkanku dari api neraka." Rasulullah ﷺ menjawab, "Engkau beribadah kepada Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan menyambung silaturrahim."

{ HR. Al-Bukhari: kitab al-Adab, bab Fadhlu Shilatirrahim (5982-5983) dan Muslim: kitab al-Iman, bab Bayanul Imanilladzi Yudkhalu bihil Jannah (12).}

Kandungan Hadits:
  1. Kegigihan para Shahabat untuk mengetahui segala amalan yang dapat mengantarkan pelakunya ke Surga dan menjauhkannya dari api neraka.
  2. Mentauhidkan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan menyambung tali silaturrahim merupakan amal yang dapat memudahkan jalan menuju Surga dan menjauhkan pelakunya dari neraka
  3. Pertanyaan merupakan salah satu cara untuk meraih ilmu. 
  4. Pentingnya menyambung silaturrahim.



Hadits ke 50. Isma'il bin Abi Uwais mengabarkan kepada kami, ia berkata: Sulaiman bin Bilal mengabarkan kepadaku dari Mu'awiyah bin Abi Muzarrid, dari Sa'id bin Yasar:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ‏:‏ خَلَقَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ الْخَلْقَ، فَلَمَّا فَرَغَ مِنْهُ قَامَتِ الرَّحِمُ، فَقَالَ‏:‏ مَهْ، قَالَتْ‏:‏ هَذَا مَقَامُ الْعَائِذِ بِكَ مِنَ الْقَطِيعَةِ، قَالَ‏:‏ أَلاَ تَرْضَيْنَ أَنْ أَصِلَ مَنْ وَصَلَكِ، وَأَقْطَعَ مَنْ قَطَعَكِ‏؟‏ قَالَتْ‏:‏ بَلَى يَا رَبِّ، قَالَ‏:‏ فَذَلِكَ لَكِ ثُمَّ قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ‏:‏ اقْرَؤُوا إِنْ شِئْتُمْ‏:‏ ‏{‏فَهَلْ عَسَيْتُمْ إِنْ تَوَلَّيْتُمْ أَنْ تُفْسِدُوا فِي الأَرْضِ وَتُقَطِّعُوا أَرْحَامَكُمْ‏}

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Allah menciptakan semua makhluk. Ketika selesai menciptakannya, maka berdirilah rahim. Allah lalu berfirman, 'Tahan.' Rahim berkata, 'Ini adalah tempat orang yang berlindung kepada-Mu dari pemutusan hubungan kekerabatan.' Allah lalu berfirman, 'Apakah engkau mau jika Aku sambung orang yang menyambungmu dan Aku putus orang yang memutusmu?' Rahim menjawab, 'Tentu, ya Rabb.' Allah lalu berfirman, 'Ini adalah ketetapan untukmu.""" Abu Hurairah berkata, "Bacalah firman Allah, 'Maka apakah kiranya jika kalian berkuasa kalian akan membuat kerusakan di bumi dan memutus silaturrahim?"" (QS. Muhammad: 22)

{ HR. Al-Bukhari: kitab at-Tafsir, Surah Muhammad, bab "Wa Tuqaththi'uu Arhaamakum" (4830) dan Muslim: kitab al-Birr wash Shilah, bab Shilatirrahim wa Tahrimu Qathi'atiha (16).}

Kandungan Hadits:
  1. Penegasan akan haramnya memutus tali silaturrahim.
  2. Silaturrahim termasuk penyebab diturunkannya rahmat Allah kepada para hamba-Nya dan memutus silaturrahim merupakan penyebab terjadinya kerusakan.
  3. Isti'adzah (meminta perlindungan) hanya boleh dilakukan kepada Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya.



Hadits ke 51.  Al-Humaidi mengabarkan kepada kami, ia berkata: Sufyan mengabarkan kepada kami dari Abu Sa'd, dari Muhammad bin Abi Musa:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ‏:‏ ‏{‏وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ‏.‏‏.‏‏.‏‏}‏، قَالَ‏:‏ بَدَأَ فَأَمَرَهُ بِأَوْجَبِ الْحُقُوقِ، وَدَلَّهُ عَلَى أَفْضَلِ الأَعْمَالِ إِذَا كَانَ عِنْدَهُ شَيْءٌ فَقَالَ‏:‏ ‏{‏وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ‏}‏، وَعَلَّمَهُ إِذَا لَمْ يَكُنْ عِنْدَهُ شَيْءٌ كَيْفَ يَقُولُ، فَقَالَ‏:‏ ‏{‏وَإِمَّا تُعْرِضَنَّ عَنْهُمُ ابْتِغَاءَ رَحْمَةٍ مِنْ رَبِّكَ تَرْجُوهَا فَقُلْ لَهُمْ قَوْلاً مَيْسُورًا‏}‏ عِدَّةً حَسَنَةً كَأَنَّهُ قَدْ كَانَ، وَلَعَلَّهُ أَنْ يَكُونَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ، ‏{‏وَلاَ تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَى عُنُقِكَ‏}‏ لاَ تُعْطِي شَيْئًا، ‏{‏وَلاَ تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ‏}‏ تُعْطِي مَا عِنْدَكَ، ‏{‏فَتَقْعُدَ مَلُومًا‏}‏ يَلُومُكَ مَنْ يَأْتِيكَ بَعْدُ، وَلاَ يَجِدُ عِنْدَكَ شَيْئًا ‏{‏مَحْسُورًا‏}‏، قَالَ‏:‏ قَدْ حَسَّرَكَ مَنْ قَدْ أَعْطَيْتَهُ‏

Dari Ibnu Abbas, ia berkata, "(Allah berfirman) 'Dan berikanlah kepada sanak famili haknya, juga orang miskin dan ibnus sabil (orang yang dalam perjalanan).... "la berkata, "Allah memulai dengan memerintahkannya dengan mewajibkan (pemenuhan) hak-hak dan menunjukkan padanya bahwa perbuatan terbaik adalah apabila dia mempunyai sesuatu." Lalu Allah berfirman, "Dan berikanlah kepada sanak famili haknya, juga orang miskin dan ibnus sabil (orang yang dalam perjalanan),' Dan memberitahu kepadanya jika dia tidak mempunyai sesuatu bagaimana mengucapkannya. Dia berfirman, 'Dan jika kamu berpaling dari mereka karena rahmat dari Rabb-mu yang engkau harapkan maka ucapkanlah ucapan yang lembut,' seolah- olah sudah terjadi dan mungkin akan terjadi, insya Allah. Firman-Nya, 'Dan jangan engkau jadikan tanganmu terikat pada lehermu,' engkau tidak memberi sesuatu. 'Dan jangan engkau terlalu melebarkan tanganmu,' dalam memberikan apa yang engkau miliki. 'Maka engkau akan tercela,' orang-orang yang datang kepadamu akan menghinamu setelah mereka mendapatimu tidak mempunyai suatu apa pun. 'Merugi,' orang yang datang kepadamu menjadikanmu merugi."

{ Isnadnya dha'if. Muhammad bin Abi Musa tidak dikenal. Selalin itu perawi yang meriwayatkan hadits darinya bernama Abu Sa'd bin al-Mirzaban, seorang mudallis, di riwayat ini dia me lakukan 'an'anah.}

Kandungan Hadits:
  1. Allah mewasiatkan kepada para hamba-Nya agar menyambung kerabat dan rahimnya. 
  2. Allah memerintahkan Nabi-Nya ﷺ untuk memberikan hak kerabat, orang miskin, dan ibnus sabil. Perintah ini juga berlaku bagi setiap individu di antara ummat beliau.





Kewajiban Silaturrahim | Al-adabul Mufrod

Bab 25 | KEWAJIBAN SILATURRAHIM


Hadits ke 47   Musa bin Isma'il mengabarkan kepada kami, ia berkata: Dham- dham bin 'Amr al-Hanafi mengabarkan kepada kami, ia berkata:


حَدَّثَنَا كُلَيْبُ بْنُ مَنْفَعَةَ قَالَ‏:‏ قَالَ جَدِّي‏:‏ يَا رَسُولَ اللّٰهِ، مَنْ أَبَرُّ‏؟‏ قَالَ‏:‏ أُمَّكَ وَأَبَاكَ، وَأُخْتَكَ وَأَخَاكَ، وَمَوْلاَكَ الَّذِي يَلِي ذَاكَ، حَقٌّ وَاجِبٌ، وَرَحِمٌ مَوْصُولَةٌ‏


Kulaib bin Manfa'ah mengabarkan kepada kami, ia berkata: Kakekku berkata, "Wahai Rasulullah, kepada siapa aku berbakti?" Beliau menjawab, "Ibu dan ayahmu, saudara perempuan dan saudara laki-lakimu serta kerabatmu yang berikutnya, itu adalah hak yang wajib dan silaturrahim yang tersambung."


{ Dha'if. Kulaib bin Manfa'ah majhulul haal. Lihat al-Irwa' (837, 2163). Diriwayatkan oleh Abu Dawud: kitab al-Adab, bab Fii Birril Walidain (5140).}


Kandungan Hadits:

  1. Bentuk pemuliaan terhadap kerabat derajatnya berbeda-beda.
  2. Memprioritaskan dan menempatkan hak-hak kaum kerabat pada tem- patnya merupakan suatu bentuk keadilan.
  3. Pesan kepada setiap orang agar berbuat baik kepada kaum kerabat sesuai dengan prioritas yang telah ditentukan oleh Nabi ﷺ dalam hadits lain,   ((الْأَقْرَبُ فَالْأَقْرَبُ))  "Dari kerabat yang terdekat kemudian kerabat terdekat berikutnya."




Hadits ke 48   Musa bin Isma'il mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu 'Awanah mengabarkan kepada kami dari 'Abdul Malik bin 'Umair, dari Musa bin Thalhah:


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ‏:‏ لَمَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ ‏{‏وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الأَقْرَبِينَ‏}‏ قَامَ النَّبِيُّ ﷺ فَنَادَى‏:‏ يَا بَنِي كَعْبِ بْنِ لُؤَيٍّ، أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنَ النَّارِ‏.‏ يَا بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ، أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنَ النَّارِ‏.‏ يَا بَنِي هَاشِمٍ، أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنَ النَّارِ‏.‏ يَا بَنِي عَبْدِ الْمُطَّلِبِ، أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنَ النَّارِ‏.‏ يَا فَاطِمَةُ بِنْتَ مُحَمَّدٍ، أَنْقِذِي نَفْسَكِ مِنَ النَّارِ، فَإِنِّي لاَ أَمْلِكُ لَكِ مِنَ اللّٰهِ شَيْئًا، غَيْرَ أَنَّ لَكُمْ رَحِمًا سَأَبُلُّهُمَا بِبِلاَلِهَا


Dari Abu Hurairah, ia berkata, "Ketika turun (ayat 214 dari surah asy-Syu'ara ), 'Dan berilah peringatan kepada kerabatmu yang terdekat,' Nabi ﷺ lalu bangkit dan menyeru, 'Wahai Bani Ka'b bin Lu`ayy, selamatkan diri kalian dari api neraka. Wahai Bani 'Abdi Manaf, selamatkan diri kalian dari api neraka. Wahai Bani Hasyim, selamatkan diri kalian dari api neraka. Wahai Bani 'Abdil Muththalib, selamatkan diri kalian dari api neraka. Wahai Fathimah binti Muhammad, selamatkan dirimu dari api neraka, karena sesungguhnya aku tidak dapat melindungimu dari Allah sedikit pun. Hanya saja bagi kalian ada hubungan silaturrahim yang akan aku sambung."


{ HR. Muslim: kitab al-Iman, bab Firman Allah: "Wa andzir Asyiratakal Aqrabin" (348). Diriwayatkan juga oleh al-Bukhari: kitab al-Washaya, bab Hal Yadkhulun Nisa' wal Walad fil Aqarib (2753) }


Kandungan Hadits:

  1. Salah satu bentuk menyambung tali silahturrahim adalah memperingatkan sanak saudara agar menyelamatkan diri dari api neraka serta mendorong mereka agar beramal shalih sehingga mampu menyelamatkan diri mereka dari murka dan siksa Allah. Hubungan kekerabatan dan nasab tidak akan bermanfaat pada Hari Pembalasan kelak, karena pahala hanya akan diperoleh jika seseorang beriman dan ber amal shalih, dan hubungan kerabat dan nasab tidak bermanfaat lagi.
  2. Hadits ini membantah keyakinan sesat yang beredar di kalangan orang bodoh dan ahli bid'ah. Mereka berkeyakinan bahwa Rasulullah ﷺ adalah pemberi syafa'at dan wasilah terbaik di sisi Allah sehingga melalui perantaraan syafa'at beliau kita dapat memasuki Surga meskipun kita tidak beramal shalih atau tidak beribadah (atas izin-Nya ﷻ).
  3. Kewajiban seorang da'i yang pertama adalah memperingatkan keluarga dan kerabat terdekatnya dari bahaya api neraka.






ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia

Broker Kripto

Tempo Doeloe

Olahan Makanan

Ulasan Film

Keimanan dan Keyakinan

Top Bisnis Online

Tips dan Trik